Sayembara Penanda Keistimewaan DIY Berhadiah Rp120 Juta

0


YOGYAKARTA – Pemda DIY terus berusaha melakukan branding untuk meneguhkan diri sebagai daerah istimewa. Pemda akan menggelar sayembara desain kawasan terpadu penanda keistimewaan. Pengumpulan desain sayembara berhadiah Rp120 juta ini dilakukan mulai Selasa, 12 September hingga Selasa, 7 November 2017 mendatang.

Kawasan terpadu penanda keistimewaan ini direncanakan di bangun di kawasan Perbukitan, Parangtritis, Bantul. Lokasi ini juga dekat dengan ruas Parangtritis-Girijati atau kelok 18 yang segera dibangun. “Ini untuk melengkapi penanda-penanda di sumbu imajiner. Terlebih di kawasan selatan belum ada, di utara ada Gunung Merapi, keraton, kemudian di selatan kan belum ada,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta di Kantor Dinas Pariwisata DIY, Selasa, 12 September 2017.

Pembangunan kawasan penanda istimewa ini akan dilakukan melalui mekanisme multiyears lantaran membutuhkan anggaran yang sangat besar. Jangka waktunya pun berkisar antara lima tahun hingga 10 tahun. “Membangun candi saja bisa dua generasi. Penanda imajiner ini selain menelan biaya yang besar, juga memakan waktu yang lama,” jelasnya.

Menurut Aris, pembangunan kawasan terpadu penanda keistimewaan ini dalam rangka mewujudkan visi misi gubernur terkait pengembangan kawasan pantai selatan Yogyakarta sebagai halaman muka DIY. Kawasan terpadu ini direncanakan akan berada di atas kelok 18 Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). “Hasil sayembara desain kawasan terpadu ini akan diformulasikan dan dirangkai dalam bentuk masterplan. Hadiah sayembara seluruhnya Rp120 juta,” katanya.

Sementara itu, Asisten Keistimewaan Setda DIY Didik Purwadi mengatakan, kawasan terpadu di Parangtritis ini diharapkan bisa menjadi semacam penanda atau tetenger tentang keistimewaan DIY. Penanda ini bukan hanya sekadar gapura atau titik saja, melainkan sebuah bangunan yang terintegrasi dalam suatu kawasan.

Direncanakan kawasan terpadu penanda keistimewaan DIY ini nanti berada pada 280-305 meter di atas permukaan laut dengan luas 17,15 hektare (ha). Secara topografi, kawasan ini berada di atas kelok 18 dan memungkinkan konektivitas langsung dengan tambahan akses pendukung. Di kawasan ini juga memungkinkan dilakukan pengembangan kawasan lebih lanjut karena dekat dengan sejumlah objek wisata seperti Goa Jepang, Watu Lumbung, Mata Air Surocolo, Sand Dune Parangkusumo, Laguna Depok, Bukit Paralayang, dan lainnya.

(mcm)

SindoNews


Menarik Untuk Di Baca Juga:

Pengudang Bintan Mangrove, Wisata Unik yang Murni Dikelola Warga TELUK SEBONG - Di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ada satu objek wisata baru bernama Pengudang Bintan Mangrove. Wisata ini cukup berbeda dari...
Malam 1 Suro Keraton Yogya Gelar Ritual Mubeng Beteng YOGYAKARTA - Keraton Ngayogyokarta Hadiningrat akan menggelar ritual Lampah Budaya Mubeng Beteng Tapa Bisu dalam menyambut 1 Sura atau tahun baru Jaw...
Target 800.000 Wisatawan ke DIY Cukup Berat YOGYAKARTA - Pemerintah menargetkan pada 2019 mendatang ada 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia. Dari jumlah itu 800.000 d...
Setelah Penemuan Goa Stalagtit, Aek Badak Julu Akan Jadi Desa Wisata TAPANULI SELATAN - Pasca-penemuan Goa Stalagtit berwarna-warni di Desa Aek Badak Julu, Kecamatan Sayurmatinggi, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan...

No comments